Tak Punya Puisi
Selamat malam, hari ini aku tak punya puisi ribut yang ingin diutarakan. Hanya ingin sedikit berbagi tentang petikan hati yang hilang. Sebuah kata kunci kosong dan melayang-layang. Tentang kata-kataku yang tanpa jeda, tentang marah yang tiba-tiba meluap, atau tentang rasa tak peduliku karena takut semakin jatuh terlalu dalam. Aku hanya ingin kita tetap sama-sama nyaman. Sama-sama tertawa pada lelucon yang kadang tidak lucu atau berdebat untuk hal yang tidak penting. Hari ini aku tak punya puisi pun tak ingin membuat puisi tapi sedang ingin cerita jadi kutulis seada-adanya kalau perasaan itu memang benar-benar ada tak tahu nampak atau tidak di hadapan mata. Nyatanya aku adalah pemain terbaik dalam petak umpet hati, dimana tak ada yang dapat melihatku menyukaimu sebelum aku mengatakannya, sebelum aku mengungkapnya.
Hei, rasanya kita sering bersama, tiap hari, tiap detik, instingku menuntunku untuk temukan ide agar kita tetap dekat, sedekat cahaya dan air ketika jadi pelangi. Indah sesaat dan akhirnya hilang. Pun, pelangi itu adalah kita. Mungkin aku adalah jingga dan kamu adalah nila. Kita sering bersama pun agak seirama tapi tak dapat berdampingan. Pun, kisah ini akankah jadi pelangi di musim pancaroba? Suatu hari datang, suatu hari tergambar, suatu hari indah, dan suatu hari hilang untuk waktu yang lama. Dan akankah jingga dan nila kita bertemu lagi? Baiklah mari kita jalani alur cerita ini, dan mari membiarkan waktu melukis kisah kita sesuka hati.
Hei, rasanya kita sering bersama, tiap hari, tiap detik, instingku menuntunku untuk temukan ide agar kita tetap dekat, sedekat cahaya dan air ketika jadi pelangi. Indah sesaat dan akhirnya hilang. Pun, pelangi itu adalah kita. Mungkin aku adalah jingga dan kamu adalah nila. Kita sering bersama pun agak seirama tapi tak dapat berdampingan. Pun, kisah ini akankah jadi pelangi di musim pancaroba? Suatu hari datang, suatu hari tergambar, suatu hari indah, dan suatu hari hilang untuk waktu yang lama. Dan akankah jingga dan nila kita bertemu lagi? Baiklah mari kita jalani alur cerita ini, dan mari membiarkan waktu melukis kisah kita sesuka hati.
Komentar
Posting Komentar