IBU (script lucu bercampur nyinyir)

Pukul satu siang, nokia keluaran lama itu menjerit keras. Aku mengambilnya, menekan tombol bergambar gagang hijau. Dengan suara yang agak dipaksakan riang aku pun berseru "Mammy!!!". Aku meredam suara gundah di ujung bibirku menampilkan bentuk suara baik-baik saja.

Aku jadi ingat sebuah pembicaraan yang lama. Ketika kita disayangi orang kita malah akan lebih sering berbohong pada orang itu. Alasannya simpel hanya nggak ingin bikin orang itu khawatir dengan keadaan kita. Ya, seperti saat ini, ketika sebenarnya aku buntu memikirkan sesuatu yang ingin kugali, ketika aku sebenarnya merasa kosong ketika menuliskan beratus kata pada lembar kerja microsof word keluaran teranyar itu. Aku kosong, tapi aku tak bisa cerita kalau aku sedang kosong, aku hanya bicara seolah-olah semuanya baik-baik saja. Itulah hebatnya perasaan ketika kita merasa disayangi, kita malah jadi pembohong paling ulung di dunia.

Pembicaraan itu sebenarnya ingin cepat aku akhiri, karena aku sudah tidak kuat untuk berbohong terlalu lama. Dalam pembicaraan itu ibu selalu bertanya bagaimana kelanjutan tulisanku dan aku bilang masih dalam proses, pasti segera diterima. Aku tahu, ibu begitu khawatir makanya dia selalu bertanya, tetapi itu malah membuatku lebih kepikiran dan itu akan sedikit demi sedikit meruntuhkan ketegaran yang aku bangun.

Aku sempat terdiam, biasanya ibu akan segera menutup telepon jika aku tak mengatakan apapun lagi. Tetapi siang itu ibu bercerita sesuatu yang lucu, indah sekaligus getir. Kau tahu, ibu ku juga lulusan S1 dalam tanda kutip "SD". Ya, ibuku hanya lulusan sekolah dasar saja, pekerjaan hari ini adalah buruh cuci setrika di sebuah pulau kecil di sebelah pulau Sumatra. Setiap hari ibu harus mencuci dan mensetrika bertumpuk-tumpuk baju orang-orang yang mau membayarnya. Majikan ibu dari bermacam kalangan mulai guru sampai ibu bhayangkari, Ibu layani mereka demi rupiah-rupiah yang kini aku gunakan untuk hidup dan salah satunya untuk menuliskan cerita ini di sini. Ini juga berkat tangan ibu yang membersihkan, hingga melicinkan baju orang-orang itu.

Walaupun ibu hanyalah lulusan sekolah dasar ibu adalah orang yang selalu belajar. Ibu adalah tipe pendengar yang baik, ibu bisa mengingat banyak kejadian, bahkan kejadian yang hanya aku ceritakan saja. Pernah suatu hari aku bercerita tentang temanku yang sekarang bekerja di salah satu pabrik garmen di Surakarta. "Namanya siapa?" tanya ibu. "Aan," jawabku. "Oh, yang pernah nabrak kandang ayam itu ya?" tanyanya. "Ha? Iya, iya, kok ibu ingat?" tanyaku kaget, karena kejadian itupun sebenarnya aku sudah lupa jika ibu tidak mengatakannya. "Ibu itu ingatannya kuat, masa iya kaya kamu yang gampang lupaan," katanya dan aku hanya tertawa saja.

Ibu sebenarnya adalah orang yang pandai, hanya saja keadaan yang memaksa ibu untuk melupakan impiannya. Hingga suatu waktu di tahun 1994 ibu menerima lamaran bapak yang berusia 7 tahun di atasnya. Ibu melahirkan aku 2 tahun kemudian dan adikku 4 tahun setelah kelahiranku. Lengkaplah ibu sekarang menjadi ibu muda yang memiliki 2 anak. Entahlah, aku tak begitu mengerti apakah ibu menyesal tidak mengenyam pendidikan yang lebih dari tingkat sekolah dasar. Hanya saja aku sering bergurau "kalau ibu sekolah tinggi, mungkin aku tidak ada di sini sekarang." Dan ibu akan mengguman sesuatu yang tidak jelas sedang aku hanya tertawa saja.

Entah siang itu tiba-tiba ibu bercerita tentang kejadian halal bihalal. Kata ibu di situ ada ibu-ibu yang bertanya begini "anakmu apa sudah lulus sekarang?" Ibu yang lain menjawab, "masih skripsi sekarang."

Waktu itu ketika ibu mendengar kata skripsi ibu merasa keren. Ibu berpikir dia sudah menjadi hebat hanya dengan mendengar kata "skripsi". "Yah, ibu nggak tahu ternyata kamu mengabulkan yang ibu bayangkan," kata ibu. Aku tertawa saja mendengarnya, kata "keren" itu seakan bernada lucu sedikit menyinyir. Nyatanya skripsi memang keren sekaligus sebagai misi terakhir yang hanya bisa dipecahkan diri sendiri, sebuah perjalanan membuka pintu baru di tengah maze yang punya beribu jalan pada buntu atau temu.

"Semoga lancar, pelan-pelan pasti selesai," kata ibu tiap mengakhiri telepon. "Iya," jawabku sembari membatin, "berhentilah khawatir Bu, doakan saja anakmu ini selalu,"

Komentar